Feeds:
Tulisan
Komentar

Hari ini, 27 Januari 2010 aku genap berusia 20 tahun dalam hitungan Masehi, sebuah fase usia prima seorang manusia.  Banyak hal telah ku lalui, masa kanak-kanak yang penuh kebabasan tanpa beban taklif, hingga ku memasuki usia taklif yang diawali fase penuh pertanyaan, bahkan hingga kini. Namun, satu hal, alhamdulillah, berkat petunjuk-Nya melalui arahan yang diberikan kedua orang tuaku, aku telah mengetahui ke mana sejatinya hidupku ini harus ku arahkan.

Aku tak tahu pasti kapan aku mencapai usia baligh, namun anggap saja tak kurang dari 10 tahun, yang artinya selama itu pula aku telah mengemban taklif agama  dan malaikat yang selalu mendampingiku mencatat amal baik dan burukku. Sebuah waktu yang lebih dari cukup untuk menorehkan catatan hitam dalam sebuah buku setebal dan sebesar ensiklopedia tertebal sekalipun. Aku tak tahu jelas, tapi aku sungguh sadar terlalu sedikit amal baikku jika harus dibandingkan dengan keburukan yang telah kulakukan. Bahkan aku yakin, catatan hitam itu semakin bertambah tebal dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya  dalam setahun terakhir ini. Aku yakini ini adalah masa terburuk. Dan biarlah aku, malaikat, dan Allah yang Maha Menutup Aib yang mengetahui hal itu.

Sungguh berat rasanya menghadapi setahun terakhir ini. Sungguh saat serangan itu telah tiba, berusaha mengingat tentang Tuhan dan kebesaran-Nya sekalipun tak dapat membuatku mampu melawan serangan tersebut. Selalu saja ada bisikan yang mengatakan bahwa Tuhan Maha Penerima Taubat dan ini telah memperdayaku. Entahlah! Mungkin inilah yang terjadi saat serangan nafsu dan syaitan begitu menggebu. Hal ini bukannya tanpa sebab. Akulah sendiri yang membuka jalan untuk terjadinya hal tersebut. Akulah yang membuka celah pertahanan imanku dan masuk dalam tipuan setan. Tertipu oleh bisikan yang isinya kebanyakan meremahkan atau mengecilkan sebuah perkara. Memang perkara itu kecil, namun aku tak sadar efek setelahnya. Hal ini ibarat sebuah cerita seorang ahli ibadah yang terperangkap dalam sebuah keadaan sulit harus memilih antara minum khamr atau berzina. Aku lupa detail ceritanya. Tapi, pada akhirnya, ahli ibadah itu melakukan semua keburukan secara fatal. Awalnya dia meminum khamr, menuruti bisikan bahwa dosa minum khamar lebih kecil dibanding berzina. Namun  kemudian, karena mabuk ia pun melakukan zina bahakan membunuh perempuan yang telah ia zinai dan bahkan membunuh dirinya sendiri. Sebuah peremehan yang mengakibatkan kefatalan. Dan ini sering menjadi celah masuknya setan.

Biarlah yang berlalu berlalu, hanya  kemurahan-Nya yang dapat kuharapkan yang terpenting kini aku telah bertekad untuk memperbaiki diri -aku bersyukur pada Tuhan Swt. yang selalu memberikan kesempatan pada hamba-Nya untuk bertobat dan kembali ke jalan-Nya sebelum kematian menjemput. Aku telah mengevaluasi apa yang selama ini telah membuatku jatuh dan terjatuh kembali. Aku akan meningkatkan kewaspadaanku. Dan aku siap menyongsong masa depan kegemilanganku. Aku bertekad memanfaatkan masa mudaku dengan  sebaik mungkin. Mengisinya dengan menuntut ilmu dan beramal secara makasimal. Aku sadar kematian dapat menjemputku kapan saja, sayap-sayap kematian selalu menaungiku. Kini bukan saatnya lagi untuk banyak mengeluh dan memanjakan diri dengan kemalasan. Kehidupan ini harus diisi dengan sebaik-baik amal perbuatan. Meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang Lanjut Baca »

write

Sudah beberapa hari ini, saya tak membuka dan mengisi blog ini dengan sebuah tulisan. Sedih memang, mengingat terkad awal saya saat membuat blog ini :  mengisinya minimal dengan satu tulisan per hari. Berat memang, tapi saya selalu berusaha memenuhinya, hingga beberapa hari yang lalu. Bukannya, saya kehilangan semangat atau telah melupakan tekad saya di awal pembuatan blog ini, justru sebaliknya, saya sangat ingin menulis, namun saya tak tahu apa yang harus saya tulis. Entah mengapa, dalam beberapa hari terakhir ini, kepala saya  yang biasanya dihinggapi berbagai ide menarik atau sebuah pemikiran untuk dituliskan, beberapa hari ini,  serasa kosong. Entah karena mood yang sedang buruk, pikiran yang kacau, dan hati yang bimbang akibat beberapa masalah di kampus atau memang karena saya sedang malas berpikir, intinya saya tak punya ide untuk tulisan saya.

Segera saja saya teringat pada pelajaran Teknik Menulis yang didapat dari unit kegiatanku di kampus, Pers Mahasiswa ITB. Saat itu, saya dijelaskan tentang dua hal penting dari sebuah tulisan : penyajian dan ide. Ide memegang peranan vital. Ide adalah ruh tulisan kita. Tanpa ide, tak kan tercipata sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang baik memuat ide atau gagasan yang baik dan tuntas menjelaskan semuanya. Namun, ide yang baik saja tak cukup untuk menyuguhkan sebuah tulisan yang berkualitas, ia harus dibarengi dengan penyajian yang baik. Pemilihan kosa kata, penggunaan gaya bahasa, urutan penyampaian gagasan, tata bahasa yang baik dan benar, dan pemilihan judul, seluruhnya tak boleh dilewatkan begitu saja untuk membuat sebuah tulisan yang berkualitas, enak dibaca, mudah dipahami, dan mampu menyampaikan gagasan yang ingin disampaikan si penulis. 

Tapi, ada sebuah tips bagi penulis pemula : Just write it down! Tuliskan seluruh ide Anda, jangan memikirkan masalah penyajian terlebih dahulu. Menulis sama saja dengan kemampuan lain dalam kehidupan. Semakin sering dilakukan, semakin Anda terbiasa. Semakin Anda sering menulis, kemampuan dalam penyajian pun akan semakin baik. Tapi, jangan lupa dibarengi dengan membaca karena kualitas tulisan Anda berkolerasi dengan seberapa banyak dan seberapa berkualitas tulisan yang telah Anda baca. Dengan membaca pun, perbendaharaan ide pun akan bertambah. 

Jadi, selamat menulis dan mengungkapkan ide-ide Anda kepada dunia.

Mereka memang Lucu

Lucu

Suatu hari seorang anak kelas 2 SD pulang ke rumah sambil berlari memanggil ibunya.

“Ibu, Ibu, tadi di sekolah aku diejekin sama teman-temanku.”

Kok, gitu? Emang kamu diejekin apa?”

“Mereka bilang aku pendek.”

“Terus,…”

Belum sempat sang ibu menuntaskan ucapannya, si anak langsung menyela.

“Tapi, tapi, tau gak Bu? Aku malah nge-doa-in mereka loh!”

Sang ayah yang masih berdiri di belakang sang anak tersenyum bangga dan berkata dalam hatinya, ”Ternyata pendidikan yang ku berikan selama ini tak sia-sia.”

Sang ibu langsung bertanya, ”Emang ade nge-doa-in mereka apa?”

“Aku berdoa semoga mulut mereka dikasih ulet sama Allah.”

Miris

pedagang kecilMiris, terhenyak, sedih, kasihan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Itulah perasaan yang selalu mencul jika melihat mereka, para pedagang asongan yang harus mengeluarkan tenaga besar, tetapi dagangannya, menurutku, sulit atau kecil keuntungannya.

Sore hari ini aku bersama ibuku pergi ke pasar Sederhana untuk mengunjungi sebuah toko penjual kue basah langganan ibuku.  Toko yang dimaksud ibuku ternyata sudah tutup karena kami datang terlalu larut. Kami pun memutuskan untuk pergi ke toko di seberang jalan. Di situlah, di pinggiran ruko, aku melihat tiga orang penjual celengan keliling lengkap dengan tiga pasang keranjang yang masih penuh dengan celengan jualan mereka. Aku tak tahu apa mereka baru datang atau mereka memang telah selesai menjajakan jualannya. Tapi, seluruhnya terlihat lelah bahkan lemas.

Satu orang dari mereka ternyata ditemani oleh istri dan seorang putrinya yang masih kecil, kuperkirakan antara kelas 2 atau 3 SD. Sang istri dan putrinya pun terlihat lelah.  Sang istri dan anak terlihat menggelar beberapa potong kardus yang kuperkirakan akan digunakan untuk berbaring.

Kupikir dalam hati. Mereka ini orang-orang dari mana? Apa mereka akan menghabiskan malam di emperan ruko ini? Apa yang mereka kejar sebenarnya? Uang hasil penjualan celengan mereka? Di sinilah, hatiku mulai terkoyak : berapa sih keuntungan dari penjualan celengan itu? berapa banyak sih orang yang akan membeli celengan itu? seberapa cepat perputarannya? Aku memperkirakan 50rb kotor sehari saja mungkin tidak! Tapi, dengan itu semua mereka harus seharian memikul celengan yang berat itu. Lelah, namun hasilnya sangat minim.

Mungkin mereka memang tidak berjualan secara keliling, namun bukan itu yang ingin kusoroti. Yang ingin kusoroti adalah jerih payah mereka yang tidak sebanding dengan apa yang didapat. Di satu sisi, aku memang salut dengan kerja keras mereka dan harga diri mereka untuk tidak mengemis, apalagi  jika mereka melakukannya dengan ikhlas dan meniatkannya sebagai ibadah, subhanallah! Sungguh luar biasa! Namun, jika mereka melakukan itu sekedar mencari sesuap nasi (omong kosong, mungkin, jika dikatakan mereka mengejar kekayaan). Oh, sungguh besar sekali tenaga yang harus mereka keluarkan!

Apa mereka bodoh? Atau mereka tak tahu hal itu tidak menguntungkan? Atau mereka terpaksa? Tak tahu hal lain yang harus dilakukan? Atau memang aku yang salah mempersepsikan karena sebenarnya usaha itu sangat menguntungkan? Aku tak tahu sebenarnya, tapi aku yakin dari kenyataan yang terlihat, bukan pilihan terakhir jawabannya karena keadaan yang mereka alami tak memperlihatkan bahwa usaha itu adalah suatu hal yang sangat menguntungkan. 

Hatiku miris, sangat miris, melihat mereka dan orang-orang yang senasib dengan mereka, seperti penjual putu yang berjualan sepanjang malam degan harga satuan putu Rp500 saja (berapa keuntungannya?). Usaha mereka sangatlah besar untuk mendapatkan hasil yang dalam ukuranku tak seberapa. Padahal, aku dengan mudahnya meminta tambahan uang jajan, meminta sebuah HP baru, atau membeli sesuatu lebih dari yang kubutuhkan. Oh Tuhan! Ampuni aku!

Sekali lagi,  aku miris, terhenyak, terkoyak, dan sedih  melihat satu lagi realitas kehidupan ini. Namun, sekali lagi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya dapat berdoa, semoga Tuhan memberi mereka petunjuk, sehingga mereka melakukannya dengan ikhlas dan meniatkannya sebagai ibadah  dan semoga Tuhan menerima dan mengganti kesulitan mereka di dunia dengan kebahagiaan di akhirat. 

Sungguh, aku khawatir mereka tak mendapat apa-apa di dunia dan di akhirat pun tak mendapat apa-apa, meski aku sungguh yakin Tuhan Mahaadil.

(Tak lupa pula kupanjatkan doa agar aku diberi kekuatan untuk bersyukur dan diberi ilham dan kemampuan untuk melakukan kebaikan/ membantu mereka.)

images (6)Malam sudah larut, sangat larut bahkan, tapi aku tak dapat memejamkam mataku. Gundah, resah, khawatir, rasa ini terus berkecamuk dalam hatiku. Pikiran itu terus menggelisahkanku : bagaimana jika esok atu tak dapat membuka mata lagi? Satu pertanyaan sederhana, namun menyiratkan efek yang luar biasa. Detak jantungku semakin keras membayangkan terjadinya hal itu.

“Apa aku takut mati?”, tanyaku lirih dalam hati.

“Mengapa harus takut? Hal itu pasti kau alami, malam ini atau kapanpun”, jawab suara lain dalam diriku mengingat kata seorang ustad bahwa takut mati adalah akhlak buruk.

“Lalu, mengapa aku segelisah ini? Itu hanya pembenaran! Akuilah kau memang takut mati! Tak usah berlagak!”, seru suara lain.

Suara-suara itu terus berbalas satu sama lain. Aku pun mulai tak mempedulikannya. Pikiranku jauh melayang membayangkan jika besok aku benar-benar tak dapat membuka mata lagi. Aku membayangkan orang-orang yang begitu mencinatiku menangisiku. Aku membayangkan mereka memandikanku. Aku membayangkan saat diriku diselimuti kain putih pakaian terakhirku. Kemudian aku digotong oleh kerabat-kerabtku menuju pembaringan terakhirku. Mereka mendoakanku. Mereka menangis untukku. Aku sangat tak ingin mereka pergi, mengingat apa yang akan kuhadapi. Akan tetapi,  sodokan tanah itu terus menutup pembaringanku. Semua menjadi gelap, sempit, hanya aku sendiri dan sayup-sayup suara dua orang terakhir yang paling mencintaiku hingga mereka pun meninggalkanku.

Aku membayangkan bagaimana tak berdayanya aku, kesepiannya aku, hingga datanglah seseorang. Harapan itu muncul. Namun, bukannya aku merasa tenang, ketakutanku makin memuncak. Para pendatang itu begitu menakutkan. Suara mereka keras. Wajah meraka menakutkan. Mereka terlihat marah. Mereka mulai menanyaiku. Aku gemetar, tak ada yang membantuku, tak ada yang menemaniku!

Deras air mataku mengalir. Aku tak dapat meneruskannya! Besar! SANGAT BESAR ketakutan yang menderaku! Spontan istighfar terus mengalir dari lidah kotorku ini. Air mataku mengalir terus mengingat yang selama ini telah kulakukan, mengingat perangai burukku, mengingat seluruh dosa-dosa akibat ketidakwaspadaanku terhadap godaan nafsu dan bisikan setan. Ku lambungkan ingatan dan harapanku pada kemurahan Sang Penguasa Semesta, Tuan yang selama ini selalu memberi budaknya ini kebaikan, Tuan yang selama ini selalu ditentang budak hina ini. Air matu semakin deras.  Aku pun segera bangkit. Ku ambil air wudhu dan sebuah buku doa. Aku bermunajat pada Sang Penderma dengan munajat wali suci-Nya.

Tuhanku, jika ajalku dekat

sedng perbuatanku tidak mendekatkanku pada-Mu

maka aku jadikan pengakuanku akan dosaku pada-Mu saat ini sebagai perantaraku

Tuhanku, jika Engkau ampuni aku, maka siapa lagi yang lebih pantas mengampuni dibandingkan-Mu?

dan jika Engkau siksa aku maka siapa lagi yang lebih bijak dalam keputusan-Nya dibandingkan-Mu?

Kasihanilah ketersinganku di dunia ini

kesedihanku di saat kematian

kesendirianku di dalam kubur

dan ketakutanku di dalam lahad


Jika  aku dibangkitkan di hadapan-Mu pada hari hisab, terhinalah posisiku

Ampunilah perbuatanku yang tersembunyi bagi manusia

teruskan untukku apa yang engkau tutup dariku

kasihanilah aku kala terlentang di atas ranjang

dibalik-balikkan oleh tangan para kekasihku (untuk dimandikan sebagai mayat)

Karuniailah aku di saat terjulur di atas pemandian

(di saat) aku dimandikan oleh tetanggaku yang baik

Kasihanilah aku di saat digotong sementara kerabatku memegang sisi-sisi jenazahku

Bantulah aku di kala aku dipindahkan sementara aku datang pada-Mu sendiri dalam kuburku

Kasihanilah keterasinganku di rumah baruku agar aku tak terhibur kecuali  dengan-Mu

Yaaa Sayyidi….

Aku tak sanggup melanjutkan. Air mataku semakin deras. Mataku begitu berat,  sangat berat. Penuh dengan air mata. Pikiranku terus melayang pada kemurahan-Nya untuk menerima pengakuanku ini.

“TRIIIIINGGGGGGGG!!TRIIIIIIINGGGGGG!!!”, tiba-tiba saja suara itu menyadarkanku. “Astaghfirullah!”, ucapku. Rupanya itu suara alarm HP-ku menandakan sudah pukul empat pagi. Ternyata aku tertidur dalam munajatku.

“Alhamdulillah, Ya Allah!”, ucapku, “rupanya Engkau masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki amalan-amalanku.”

 Karenanya, ku segera bangkit dengan sebuah tekad dan semangat untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dan mengisi hari-hari yang kuhadapi dengan kebaikan dan amal soleh serta menuntut ilmu dan kesungguhan mendekatkan diri pada-Nya. Tak lupa sebuah doa semoga Allah memberiku kekuatan untuk itu dan menjaga diriku dari segala macam halangan dan rintangan yang akan menjatuhkanku karena hanya dari-Nya lah segala kekuatan dan daya upaya.

menyongsong pagi

****

Sebuah harapan dan tekad dari seorang yang penuh dosa ini. 

Keterangan : Penggalan doa diambil dari doa Abu Hamzah Ats-Tsimali.

Nah, Itu Apa!

Suatu hari saat matahari bersinar cukup terik, seorang  pengendara motor  menepikan motornya mendekati seorang gadis yang sedang berdiri di sisi.

“Neng, bisa tolong misscall-in HP ibu gak? Tadi ibu habis nelpon terus sekarang dicari kok gak ada”, ungkap si pengendara motor yang ternyata seorang ibu-ibu.

“Oh, boleh! Berapa nomornya?”, timbal si gadis.

“0229xxxxxxx”

Sang gadis pun menelpon HP pengendara motor tersebut.

“Udah nyambyng nih, Bu!”

“Iya, ini juga udah kerasa getarnya”, jawab si Ibu sambil mencari di dalam tasnya.

“Kok, gak ada ya, Neng!”, tukas si Ibu beberapa saat setelah mencari sambil tetap merasakan getaran HP-nya.

“Coba liat, Bu!”, ujar si gadis sambil ikut melihat isi tas si Ibu, mencari HP.

“Iya yah, ga ada!”, seru si gadis sambil mengalihkan pandangannya ke wajah si Ibu.

“Nah, itu apa!”, si gadis berbicara sedikit keras sambil menunjuk ke wajah si Ibu yang masih menggunakan helm.

#$!?Gubrak!!!#^&%)#

gubrak

****

Jadi, ceritanya si Ibu itu menelpon sambil mengendarai motor dengan menyelipkan HP-nya diantara teling dan helmnya lalu lupa.

Yah, inilah pengalaman nyata yang cukup menggelikan dari seorang yang sering lupa. :D

Berbicara pada Jiwa

Di hadapan semua karuniayang kau miliki, apakah tanggung jawab-Mu terhadap Sang Tuan Pemilik segala sesuatu? Apakah semua karunia ini hanya untuk kehidupan hewani ini dan memuaskan hawa nafsu saja, sehingga kau benar-benar tidak lagi beda dengan semua binatang? Ataukah ada maksud lain di balik ini semua? Apakah para nabi yang mulia, manusia-manusia sempurna yang terhormat, orang-orang bijak yang besar, dan ulama yang mengajarkan hukum-hukum akal dan wahyu kepada setiap umatnya dan memperingatkan mereka akan syahwat kebinatangan dan akan dunia yang fana ini, apakah mereka semua itu pernah memerangi karunia-karunia itu? Apakah mereka semua itu seperti kamu yang tidak tahu kemaslahatanmu sendiri dan larut dalam kubangan hawa nafsu? 

Berfikirlah sejenak kawan! Niscaya kau akan menyadari ada sesuatu di balik semua karunia ini; maksud penciptaan dan pengadaan ini ialah alam luhur yang lebih besar, dan bahwa kehidupan dunia ini bukanlah maksud yang sesungguhnya. Maka itu, kau  yang berakal sepatutnya berfikir tentang dirimu sendiri; menyayangi keadaan dirimu yang memprihatinkan, dan berdialoglah dengan batinmu: “Duhai jiwa yang malang, yang bertahun-tahun lamanya telah menghabiskan umur untuk memuaskan hawa nafsu lalu tidak lagi menyisakan untuk dirimu selain penyesalan, alangkah baiknya bila sedikit saja kau iba pada keadaan dirimu, kau malu pada Pemilik semesta alam, kau langkahkan kakimu barang setapak menuju tujuan utamamu, langkah yang membawamu masuk ke dalam kehidupan dan kebahagiaan abadi. 

“Duhai jiwa yang sengsara! Akankah kau biarkan kebahagiaan abadimu ditawar dengan kepuasan jiwa yang terbatas dan berkesudahan, kepuasan yang belum tentu bisa dipenuhi meski dengan segenap jerih payah. Duhai dikau jiwa yang sengsara, cobalah untuk sekejap saja berfikir tentang keadaan para pencari dunia terdahulu dan generasi mereka yang terakhir kau lihat, perhatikan dan amatilah betapa besarnya usaha dan kesusahan yang mereka tanggung ketimbang ketenangan yang mereka dapatkan, padahal ketenangan itu sendiri bukanlah janji untuk setiap orang.

images (1)

Pilihlah! Anda bebas memilih. Ya, itulah anugerah yang diberikan Tuhan kepada ciptaan terbaik-Nya: manusia. Tak percaya? Coba tanyakan pada diri Anda sendiri, kapan Anda memiliki sebuah kesempatan dan kemampuan, tanpa ada rintangan menghalang, untuk melakukan sesuatu, tetapi Anda tidak dapat melakukan perbuatan tersebut? Saya yakin, saat itu hanya kehendak Anda yang menentukan : melakukan atau tidak melakukan. 

Kehendak bebas! Itulah anugerah dari Tuhan yang membedakan kita dari binatang atau tumbuhan. Suatu tumbuhan hidupnya sangat bergantung pada kondisi tanah dan lingkungan tempat ia tumbuh, tidak dapat memilih untuk pindah rumah, seperti kita, misalnya. Binatang pun begitu, meski ia memiliki lebih kebabasan dibandingkan tumbuhan, binatang tak dapat banyak mempertimbangkan perbuatannya, ia bergerak (lebih banyak) berdasarkan insting. Harimau, misalnya, ia tak berpikir untuik berhenti memburu kijang karena menganggap hal itu kejam (aneh kali ya, jika hal ini sampai terjadi :D ). 

Manusia memiliki kendali sepenuhnya atas perbuatannya, bebas sebebas-bebasnya, saat tak ada sesuatu pun merintangi. Kehendak bebas itu dapat diarahkan untuk kebaikan dan kebenaran atau untuk keburukan dan sekedar pemuasan keinginan-keinginan ego dan nafsu. 

Di sinilah, sekali lagi dibuktikan keadilan Tuhan. Ia tak sekedar memberikan kebebasan, tetapi juga memberikan alat yang memberi kita kemampuan untuk menentukan apa yang seharusnya kita pilih. Ya, akallah jawabannya! Akal manusia dapat mempertimbangkan apa yang seharusnya ia pilih. Akal pulalah yang mengatakan kita bebas memilih, tetapi tidak bisa memilih kosekuensi dari perbuatan tersebut. Karenanya, seseorang yang akalnya sehat akan berpikir ulang untuk melakukan suatu perbuatan.

Di sini muncul pertanyaan: lalu, mengapa kebanyakan manusia melakukan keburukan? Tak dapat dipungkiri, akal bukanlah satu-satunya kekuatan yang ada dalam diri kita, ada nafsu yang selalu berusaha menyeret kita pada kesenangan-kesenangan dan pemuasan-pemuasan keinginan dunia. Pertarungan antarkeduanya selalu terjadi sepanjang hidup manusia. Jika akal yang menang, mulialah manusia itu. Tetapi, jika nafsu yang menang, terhinalah ia.

Inilah kemudian mengapa Allah, dalam  Quran, menyebutkan bahwa manusia di satu sisi dapat melebihi kemuliaan malaikat dan di sisi dapat dapat menjadi lebih hina dibandingkan binatang. Malaikat taat karena ia memang diciptakan untuk taat,  ia tak diberi nafsu. Sementara binatang, ia melakukan sesuatu sesukanya karena memang ia tak memiliki akal, atau kemapuan mempertimbangkan baik buruknya perbuatannya. Karenanya,  wajar jika manusia dapat menjadi lebih mulia dari malaikat (taat, padahal ia punya nafsu) dan ia dapat menjadi lebih hina dari binantang (melakukan sesuatu sesukanya, padahal ia telah diberi akal).

So, terserah Anda memilih yang mana. Anda bebas memilih, konsekuensi mengikuti!

*****

Semoga bermanfaat dan dapat menjadi introspeksi bersama, khususnya untuk penulis. :D

Permohonan Maaf

Mohon maaf sedalam-dalamnya kuucapkan kepada orang-orang yang merasa telah dibohongi oleh tulisan pertamaku di blog ini, Sebuah Permulaan di Blog Baru, terutama kepada diriku sendiri. Sudah dua hari atau tiga hari ini aku tak memposting tulisan di blog ini. Entah ini sebuah pembenaran atau bukan, tapi dalam dua/tiga hari ini aku sedang berkutat dengan ujian dan tugas-tugas dan kelelahan setelahnya, sehingga tak sempat memposting minimal satu tulisan per hari. Tapi, sudahlah! Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang, biarkan aku menebusnya dengan lebih banyak tulisan lagi dalam beberapa hari ini. 

Tolong dimaafkan. Terima kasih.

“Hargailah dirimu sendiri jika kau ingin dihargai orang lain”

Jangan Titipkan ke Polisi

Suatu ketika seseorang mengalami kesulitan membayar hutangnya yang hampir jatuh tempo. Hutangnya tidak banyak hanya Rp100.000 saja. Hampir putus asa, ia pun memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan. Begini isi suratnya.

Kepada

Tuhan Yang Maha Kuasa

di mana pun kau berada.

 

Duhai Tuhan, Engkaulah yang selalu berbuat baik kepada siapapun. Kali ini aku sedang mengalami kebingungan karena tak kunjung mendapatkan uang untuk membayar hutangku, padahal dia sangat kejam, tak bisa memberiku keringanan. Hutangku tak banyak, cuman 100.000 saja. Tolong berikan uang sebanyak itu.

Terima kasih.

Salam hormatku.

 

Akhirnya, ia pun mengirimkan surat itu melalui pos.

Cerita berlajut. Tukang pos yang kebingungan harus menyampaikan surat tersebut ke mana memutuskan untuk mengantarkan surat tersebut ke kantor polisi. 

Di kantor polisi, para polisi pun mengalami kebingungan, tapi ada pula yang menertawakan tingkah pengirim surat tersebut. Meski begitu semua, ada seorang polisi yang tergerak hatinya. 

“Heh, udah-udah! Sekarang cepat keluarkan uang yang kalian punya! Kita bantu dia semampunya”, ujarnya mengajak teman-temannya.

Akhirnya, para polisi yang saat itu berada di situ mengeluarkan uang yang ada di saku mereka seadanya. Walhasil, terkumpullah uang sebanyak Rp75.0000.

“Bagaimana, nih? Hanya terkumpul segini”, ucap seorang polisi.

“Sudahlah tak apa! Toh, kita sudah berniat baik!”, ujar polisi yang lain.

Akhirnya, mereka pun memasukkan uang terkumpul tersebut ke dalam amplop yang sama dan menyuruh seseorang di antara mereka untuk menyampaikan balik surat tersebut ke pengirimnya.

Singkat cerita, si pengirim suratpun menerima uangnya. Ia sangat bersyukur dan menulis surat kembali.

Kepada

Tuhan Yang Maha Kuasa

di mana pun kau berada.

 

Terima kasih kuucapkan atas uang yang telah kau kirimkan, sehingga dapat meringankan bebanku. Tapi, Tuhanku, lain kali jangan titipkan  ke polisi, uang yang kau berikan dipotong 25.000 oleh mereka. 

Terima kasih.

***

Diceritakan ulang dari kisah seorang kawan, hanya sebagai sebuah lelucon dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun.

:) :D

 

 

 

Tulisan Sebelumnya »