Hari ini, 27 Januari 2010 aku genap berusia 20 tahun dalam hitungan Masehi, sebuah fase usia prima seorang manusia. Banyak hal telah ku lalui, masa kanak-kanak yang penuh kebabasan tanpa beban taklif, hingga ku memasuki usia taklif yang diawali fase penuh pertanyaan, bahkan hingga kini. Namun, satu hal, alhamdulillah, berkat petunjuk-Nya melalui arahan yang diberikan kedua orang tuaku, aku telah mengetahui ke mana sejatinya hidupku ini harus ku arahkan.
Aku tak tahu pasti kapan aku mencapai usia baligh, namun anggap saja tak kurang dari 10 tahun, yang artinya selama itu pula aku telah mengemban taklif agama dan malaikat yang selalu mendampingiku mencatat amal baik dan burukku. Sebuah waktu yang lebih dari cukup untuk menorehkan catatan hitam dalam sebuah buku setebal dan sebesar ensiklopedia tertebal sekalipun. Aku tak tahu jelas, tapi aku sungguh sadar terlalu sedikit amal baikku jika harus dibandingkan dengan keburukan yang telah kulakukan. Bahkan aku yakin, catatan hitam itu semakin bertambah tebal dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya dalam setahun terakhir ini. Aku yakini ini adalah masa terburuk. Dan biarlah aku, malaikat, dan Allah yang Maha Menutup Aib yang mengetahui hal itu.
Sungguh berat rasanya menghadapi setahun terakhir ini. Sungguh saat serangan itu telah tiba, berusaha mengingat tentang Tuhan dan kebesaran-Nya sekalipun tak dapat membuatku mampu melawan serangan tersebut. Selalu saja ada bisikan yang mengatakan bahwa Tuhan Maha Penerima Taubat dan ini telah memperdayaku. Entahlah! Mungkin inilah yang terjadi saat serangan nafsu dan syaitan begitu menggebu. Hal ini bukannya tanpa sebab. Akulah sendiri yang membuka jalan untuk terjadinya hal tersebut. Akulah yang membuka celah pertahanan imanku dan masuk dalam tipuan setan. Tertipu oleh bisikan yang isinya kebanyakan meremahkan atau mengecilkan sebuah perkara. Memang perkara itu kecil, namun aku tak sadar efek setelahnya. Hal ini ibarat sebuah cerita seorang ahli ibadah yang terperangkap dalam sebuah keadaan sulit harus memilih antara minum khamr atau berzina. Aku lupa detail ceritanya. Tapi, pada akhirnya, ahli ibadah itu melakukan semua keburukan secara fatal. Awalnya dia meminum khamr, menuruti bisikan bahwa dosa minum khamar lebih kecil dibanding berzina. Namun kemudian, karena mabuk ia pun melakukan zina bahakan membunuh perempuan yang telah ia zinai dan bahkan membunuh dirinya sendiri. Sebuah peremehan yang mengakibatkan kefatalan. Dan ini sering menjadi celah masuknya setan.
Biarlah yang berlalu berlalu, hanya kemurahan-Nya yang dapat kuharapkan yang terpenting kini aku telah bertekad untuk memperbaiki diri -aku bersyukur pada Tuhan Swt. yang selalu memberikan kesempatan pada hamba-Nya untuk bertobat dan kembali ke jalan-Nya sebelum kematian menjemput. Aku telah mengevaluasi apa yang selama ini telah membuatku jatuh dan terjatuh kembali. Aku akan meningkatkan kewaspadaanku. Dan aku siap menyongsong masa depan kegemilanganku. Aku bertekad memanfaatkan masa mudaku dengan sebaik mungkin. Mengisinya dengan menuntut ilmu dan beramal secara makasimal. Aku sadar kematian dapat menjemputku kapan saja, sayap-sayap kematian selalu menaungiku. Kini bukan saatnya lagi untuk banyak mengeluh dan memanjakan diri dengan kemalasan. Kehidupan ini harus diisi dengan sebaik-baik amal perbuatan. Meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang Lanjut Baca »


Miris, terhenyak, sedih, kasihan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Itulah perasaan yang selalu mencul jika melihat mereka, para pedagang asongan yang harus mengeluarkan tenaga besar, tetapi dagangannya, menurutku, sulit atau kecil keuntungannya.
Malam sudah larut, sangat larut bahkan, tapi aku tak dapat memejamkam mataku. Gundah, resah, khawatir, rasa ini terus berkecamuk dalam hatiku. Pikiran itu terus menggelisahkanku : bagaimana jika esok atu tak dapat membuka mata lagi? Satu pertanyaan sederhana, namun menyiratkan efek yang luar biasa. Detak jantungku semakin keras membayangkan terjadinya hal itu.

